Pendidikan dari Pemuda Alumni Pesantren

Pendidikan dari Pemuda Alumni Pesantren

Oleh: Nurul Huda SA*

Sejak era 1970-an almarhum Nurcholish Madjid telah memprediksikan bahwa generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) akan menjadi garda depan dalam menggerakkan Islam di Indonesia melampaui kelompok Islam yang mengklaim diri pembaharu sekalipun. Hal ini di dasarkan pada kenyataan tumbuhnya kesadaran berpendidikan masyarakat NU di perguruan tinggi agama  maupun umum, setelah bergelut dengan kekuatan tradisi keislaman klasik di pondok pesantren. Paduan akar keislaman klasik dengan ilmu social produk perguruan tinggi akan menghasilkan generasi dengan kadar kualitas yang tidak mungkin dimiliki oleh kelompok-kelompok Islam lain di Indonesia.

      Bacaan Nurcholish Madjid tentang generasi muda NU menemukan aktualitasnya, apalagi pada saat ini dimana NU telah memiliki berjuta sarjana, ribuan bergelar master, dan meski belum begitu banyak yang doctor maupun professor. Namun NU telah memasifkan para kader ulama dengan mengirim mereka ke berbagai perguruan tinggi baik di dalam negeri,  di Barat maupun di Timur Tengah. Kini, malah di pesantren-pesantren telah lahir begitu banyak sekolah tinggi dan universitas (meski mayoritas masih dikelola seadanya). Dalam lima tahun ke depan akan lahir ribuan doctor bertradisi pesantren kader-kader muda NU.

      Generasi NU yang terdidik ini memiliki tradisi kritisisme terhadap segala bentuk hegemoni dan ketidakadilan, baik secara pemikiran-wacana maupun tindakan-aksi (Ulil Abshar: 1999). Pada aras pemikiran ada dua faktor yang menjadi nafas dan tenaga intelektualnya; pertama, gerakan pembaruan Islam tahun 1970-an yang dikembangkan secara akademis oleh IAIN melalui Harun Nasution; kedua, arus dari kancah gerakan. Jika yang pertama cenderung rasionalistis-liberalis, maka yang kedua ini lebih sosialistis, dalam arti menafsir ajaran Islam untuk pembelaan kaum tertindas. Kombinasi dua arus ini melahirkan jenis pemikiran ke dalam (dalam konteks tradisi NU) berwatak liberal, dalam pengertian melawan tradisi; dan keluar (dalam konteks gerakan) berwatak emansipatif, dalam arti membela hak-hak kaum dhuafa’.

Pada aras radikalisme tindakan, biasanya berbentuk demo dan aksi-aksi advokasi. Radikalisme jenis ini pada dasarnya rentetan lebih lanjut dari radikalisme pikiran, yang dipacu dengan bacaan-bacaan yang menggairahkan, menantang, dan  menggelorakan jiwa kaum  muda di atas. Anak-anak muda NU memiliki bacaan yang lebih kreatif dan anutan tokoh yang lebih oposan di bandingkan bacaan kaum modernis. Hampir tidak pernah ada kader muda NU  melakukan kajian tentang tokoh yang menjadi pujaan kaum modernis seperti Jamaludin Al-Afghani, Ibnu Taymiyah, atau Muhammad Abduh. Anak-anak NU muda lebih akrab dengan tokoh semisal Al-Jabiri, Arkaun, Mahmud M. Thaha.

Mencermati geneologi di atas maka generasi muda NU merupakan  komunitas yang berbasis tradisional dengan corak pemikiran yang unik, tradisionalisme yang liberal (Zaini Rahman: 2000). Dengan basisnya yang tradisional tampak nyata mereka mampu melampaui watak tradisionalitasnya bahkan melampaui keliberalan kaum modernis sekalipun. Dikalangan kalangan anak muda NU sendiri, mereka mengidentifikasi dirinya sebagai generasi Post-Tradisionalisme Islam.

Paling tidak indikator ini dapat dilihat  dari gerak langkahnya yang lebih mengedepankan wacana keagamaan yang transformatif-liberatif misalnya tentang aswaja yang lebih dipahami sebagai manhaj al-fikr (metode berfikir) dibandingkan sebagai  petuah yang taken for granted (tidak boleh di otak-atik). Generasi ini tegas lebih mementingkan substansi dari pada yang bersifat formal simbolik. Dan wajar bila dalam isu-isu kebangsaan kontemporet lebih mengkampanyekan tentang pluralisme, nilai-nilai kebangsaan, anti diskriminasi, dan membangun kesetaraan gender.

Dalam bahasa anak-anak muda NU ini, area of concern-nya  adalah pada persoalan kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kerakyatan untuk mencapai kehidupan yang musawah (egaliter), mu’asarah bil ma’ruf (harmonis) dan al-adalah (berkeadilan).

 

*Penulis adalah dosen tetap fakultas Tarbiyyah Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dan aktif di Dewan Pendidikan Kota Cirebon.

Leave a comment