Alumni ISIF Tanggapi Penyusunan Skripsi

Alumni ISIF Tanggapi Penyusunan Skripsi

Iin Amiyana, Alumni ISIF Angkatan I, saat diwawancarai di kantor ISIF.

ISIF.AC.ID, Cirebon – Tidak istiqomah dan bermalas-malasan adalah fenomena sekaligus kendala bagi mahasiswa dalam penyelesaian skripsi. Hal ini berdampak pada lambatnya mahasiswa dalam pencarian data, penulisan bahkan bimbingan skripsi. Minimnya waktu karena telah bekerja dijadikan pula alasan tertundanya penyelesaian skripsi. Pendek kata mahasiswa berpikir pembuatan skripsi merupakan hal yang sulit.

“Menyusun atau menulis skripsi itu susah-susah gampang, walaupun sudah mendapat bimbingan dan pengarahan dosen pembimbing,” tanggap Diaz Alaudin, Alumuni ISIF Angkatan III yang bekerja sebagai Staf ISIF, Sabtu (27/4/2019). Namun jika sudah mengetahui celahnya, Diaz menambahkan, menyusun skripsi itu mudah.

Menurut Diaz, ada berbagai ragam pengambilan judul skripsi yang penting tidak keluar dari program studi yang mahasiswa tekuni. Ada judu skripsi yang diangkat karena kesenangan atau mata kuliah yang disenangi dari mata kuliah yang sudah diambil. Bisa juga judul skripsi diambil dari buku-buku yang dikumpulkan atau dari hasil searching internet.

“Dengan demikian kita dapat mengumpulkan banyak referensi sehingga datanya mudah diolah, bisa juga dengan mengambil karya orang lain dan mengembangkan dengan diskusi,” ujarnya.

Diaz menjelasakan, dalam menyusun skripsi kita harus mengetahui tema atau fokus tujuan penulisan skripsi itu apa. Skripsi itu difokuskan pada tema besar dan harus sesuai dengan kriteria atau ideologi kampusnya. Misalnya ISIF, berarti harus sesuai dengan kriteria ISIF, diantaranya gender, demokrasi, HAM, pluralisme dan kebudayaan. “Selain dari kriteria-kriteria tersebut skripsi bisa ditolak,” tegasnya.

“Dalam menyusun skripsi yang penting tau tujuan atau tema penulisannya yang kita fokuskan. Karena dosen pembimbing tidak sepenuhnya membimbing, terkadang bikin kacau yang dibimbing karena sama-sama tidak tahu tujuan akhirnya. Pembimbing itu harus mengarahkan,” pungkasya.

Ditemui di tempat berbeda, pembimbing skripsi sekalligus Deputi Rektor Bidang Riset, Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Ali Chozin, M.Ag, berpendapat bahwa kebanyakan mahasiswa itu memiliki rasa pesimis dalam menyusun skripsi dalam arti mereka, para mahasiswa, itu belum mencoba menulis skripsi sudah berpikir seolah-olah skripsi mereka tidak akan selesai. Kemudian rasa pesimis itu muncul dalam diri mereka.

“Sebenarnya ada beberapa dosen yang hanya ingin menguji mental para mahasiswanya saja. Maksudnya ada mahasiswa yang tulisannya benar tapi masih saja disalahkan suruh diperbaiki lagi,” tutur Ali.

“Itu hanya menguji mental mahasiswanya yang kemudian setelah mahasiswanya memberikan perbaikan pengajuan skripsi yang ketiga kalinya itu akan di ACC atau diterima oleh dosennya. Karena standarisasi diterima atau tidaknya dalam tingkat S1 itu masih ringan dalam arti tiga kali perbaikan,” imbuhnya.

Berbeda dengan Diaz, Iin Amiyana, Alumni ISIF Angkatan I, menanggapai bahwa penyusunan skripsi itu banyak hambatan sebelum adanya bimbingan atau pengarahan dari dosen pebimbing. “ Setelah mendapatkan bimbingan skripsi mahasiswa ada kemudahan karena dengan bimbingan dari dosen pembimbing ini, mahasiswa tahu arah dan tujuan penulisan,” jelas Iin.

Masih menurt Iin, yang juga Staf ISIF, pada saat kuliah dahulu, ada 10 orang mahasiswa yang tidak melanjutkan menyusun skripsi karena beberapa faktor. Diantara faktornya karena ketidakseriusan dalam penulisan skripsi atau asal menulis saja, tidak mengetahui tema yang akan dituju dan tidak memahami tema tersebut.

“Serta kurang membaca buku terutama buku mengenai metode penelitian, yang kemudian 10 mahasiswa itu memilih pindah kampus,” paparnya menutup wawancara.

Reporter: Suci Rohmawati
Editor: Nana Cahana Di’in
Sabtu, 27 April 2019 15:52 WIB

Leave a comment