Mahasiswa ISIF Refleksikan Pengalaman PIT

Mahasiswa ISIF Refleksikan Pengalaman PIT

Mahasiswa PIT membantu kegiatan Posyandu di Desa Greged

ISIF.AC.ID, Cirebon – Bermasyarakat tidaklah mudah. Agar mengerti apa yang terjadi pada masyarakat, mahasiswa peserta PIT (Praktik Islamologi Terapan) itu harus turun langsung ke lapangan dalam arti ikut serta dalam semua kegiatan yang dilakukan masyarakat tersebut.

Hal demikian telah dicoba oleh Mahasiswa ISIF yang telah melakukan kegiatan PIT selama dua bulan yaitu dari tanggal 27 Februari hingga tanggal 27 April 2019 di Desa Greged, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon.

“Mereka senang telah melakukan PIT, karena dapat belajar langsung dengan masyarakat dan menjadi tahu kegiatan apa saja yang ada di desa. Ternyata tidak semua materi kuliah itu diterapkan di masyarakat, karena selebihnya itu kita yang belajar langsung dari masyarakatnya,” tutur Mala, Mahasiswa ISIF peserta PIT, Sabtu (11/05/2019) siang.

Menurut Mala kegiatan PIT berbeda dengan kegiatan PLP, karena kegiatan PIT pembelajarannya langsung dari masyarakat dan hanya sebagian materi kuliah yang diterapkan. Sedangkan kegiatan PLP hampir sepenuhnya menerapkan materi kuliah.

“Banyak hal yang diperoleh setelah melaksanakan PIT. Salah satunya yaitu lebih peduli terhadap masyarakat dan tau cara mendekati masyarakat dengan ikut berkegiatan langsung, seperti ikut menghadiri pengajian dan yang lainnya,” tambah Mala.

Berbeda dengan Mala, Sa’adah Nur Fatimah berpendapat bahwa kegiatan PIT itu berarti mahasiswa belajar bersama masyarakat dalam kegiatan sehari-hari. Adapun materi kuliah itu hanya sebagian penerapannya.

Masih menurut Sa’adah, ketika PIT perasaan senang, sedih dan rasa penasaran muncul. Perasaan senang karena masyarakat Greged menerima dengan terbuka. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Greged menerima kedatangan Mahasiswa KKN sehingga mereka mudah untuk diminta datanya. Perasaan sedih ketika sebagian teman pulang untuk suatu urusan dan posko PIT menjadi sepi.

“Penasaran karena perbedaan lingkungan pada saat PIT dengan lingkungan sendiri, harus beradaptasi langsung dengan masyarakat yang kebetulan masyarakat Greged mayoritas berbahasa sunda,” tambahnya.

“Setelah melaksanakan PIT kita juga mempresentasikan hasilnya di desa dengan mengundang aparat desa, ibu-ibu PKK, dan warga setempat, kemudian menjelaskannya serta memberi solusi kepada masyarakat Greged,” ucap Sa’adah.

Berdasarkan data dari Mahasiswa PIT masyarakat Greged merupakan daerah potensi pemasok buah mangga terbesar setelah daerah Indramayu. Dalam presentasi di depan masyarakat, Mahasiswa ISIF berharap agar masyarakat Greged membangun potensi itu lagi supaya masyarakat Greged yang kerja diluar daerah berkurang. Faktanya rata-rata kalangan bapak-bapak bahkan para pemuda Greged bekerja di luar daerah.

Mengenai Posyandu, di Desa Greged ada blok yang letaknya terpencil yang masih merupakan kawasan santri. Masyarakat Blok ini tidak mau mengikuti kegiatan Posyandu seperti imunisasi, karena bagi mereka imunisasi itu haram.

“Sebab dulu ada balita yang di imunisasi kemudian setelah imunisasi balita itu suhu badannya mengalami panas dan dibawa ke dokter, karena tidak tertolong dan akhirnya balita itu meninggal. Sehingga masyarakat blok tersebut menjustifikasi bahwa imunisasi itu haram,” kata Sa’adah membeberkan temuan lain dari PIT.

Reporter: Suci Rohmawati
Editor: Nana Cahana Di’in
Sabtu, 11 Mei 2019 14:00 WIB

Leave a comment