(+62 231) 8301548 isif@isif.ac.id

Oleh: Marzuki Wahid (Rektor ISIF)

ISIF CIREBON – Betul kata banyak orang, haji tahun 2023 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Haji pasca Covid-19 ini betul-betul mbludak. Tidak hanya jamaah haji Indonesia, tetapi juga jamaah haji negara lain.

Indonesia mengirimkan 229 ribu orang jamaah haji, 100 persen kuota plus 8000 jamaah haji tambahan. Data Siskohat menyebutkan satu dari tiga jamaah haji Indonesia adalah Lansia. Data BPS 2020 menyebutkan satu dari empat Lansia mengalami sakit dengan berbagai jenisnya.

Selain itu, haji tahun 2023 jatuh pada musim panas, mencapai 46 derajat Celcius. Bagi orang Indonesia yang biasa hidup dalam suhu 26-27 derajat Celcius, ini adalah tantangan sangat berat.

Mengelola manusia 229 ribu yang 30% nya adalah Lansia di tengah jutaan manusia dalam suhu 46 derajat Celcius yang sebagian besar akvitasnya adalah jalan kaki kiloan meter tentu adalah pekerjaan tidak mudah.

Sebagai petugas haji yang diamanatkan oleh Pemerintah pada tahun 2023, kami memiliki pengalaman yang unik dan menarik yang mungkin jarang ditemui oleh penyelenggaraan haji sebelumnya.

Saya yakin semua petugas jamaah haji memiliki pengalaman unik masing-masing. Apabila dituliskan semuanya tentu ruang ini tidak akan cukup menampung. Tetapi beberapa pengalaman penting ditulis sebagai kesaksian sejarah.

Tepatnya pada 14 Juni 2023, di suatu hotel wilayah Sektor 3 Madinah, ada agenda pendorongan jamaah haji dari Madinah menuju ke Mekah. Seperti biasa, semua petugas haji sektor 3 berangkat menuju hotel itu untuk membantu, melayani, dan memastikan semua jamaah haji –terutama Lansia– terangkut secara manusiawi dalam bus beserta barang-barangnya.

Nah, pada hari itu listrik di hotel itu konslet. Sehingga lift alat angkut naik turun jamaah haji di hotel itu tidak berfungsi. Padahal hotel itu memiliki 10 lantai. Kebetulan Kloter jamaah haji yang hendak didorong berangkat ke Mekah ini singgah di lantai 10, 9, dan 8.

Dari sisi usia, sepertiga jamaah haji di Kloter ini adalah Lansia. Dari sepertiga itu, ada sekitar 15-an orang Lansia yang berkebutuhan khusus, baik karena tidak bisa jalan sehingga bergantung pada kursi roda, tidak bisa melihat, berpenyakit jantung yang melekat padanya alat deteksi jantung, dan lain-lain.

Apa yang terjadi dan apa yang kami lakukan menghadapi situasi seperti ini?

Oleh karena lift tidak berfungsi dan tidak ada alat turun lain, maka kami menggunakan tangga darurat sebagai jalan untuk menurunkan koper kecil dan 314 jamaah haji. Kebetulan koper besar sudah diturunkan sehari sebelum lift bermasalah.

Bisa kebayang energi yang harus dikeluarkan oleh jamaah dan petugas haji dalam menurunkan koper kecil dan menuntun, memapa, dan menggotong jamaah haji dari lantai 10, 9, dan 8 hingga lantai lobby di hotel itu.

Ini bukan 1 atau 50 orang, tapi 314 orang yang jamaah laki-lakinya sudah berpakaian ihram, karena untuk niat ihram di miqot Abyar Ali atau Dzul Hulaifah.

Kalau hanya menuntun dan memapa jamaah Lansia, meskipun ngos-ngosan karena berkali-kali naik turun tangga darurat, ini masih terhitung ringan.

Ini ada 3 jamaah Lansia yang harus digotong dengan kursi rodanya dari lantai 10 hingga ke lantai lobby melalui tangga darurat. Empat orang gak cukup, kami harus berestafet menggotong Lansia berkursi roda ini. Tidak kuat hanya petugas, kami juga dibantu oleh ‘ummal untuk menggotong dari lantai 10 ini.

Inilah sebagian realitas yang kami hadapi dan lakukan. Ini tentu membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan ketekunan yang tak bertepi. Hanya doa dan maunah dari Allah kami harap agar kami tetap sehat, kuat, semangat, dan ikhlas.

Melayani jamaah haji adalah kemuliaan bagi kami. []