(+62 231) 8301548 isif@isif.ac.id

“Keloid Reflections”: Welas Asih terhadap Individu dengan Ragam Identitas Ketubuhan

Pertunjukan seni kolaboratif bertajuk “Keloid Reflections”(Cermin Keloid) ditampilkan secara virtual oleh penggiat Balad Kawit Seja, Umah Ramah dan penggiat muda lainnya dalam Konferensi tahunan UCR QTSR (University of California, Riverside on Queer and Trans Studies in Religion) yang keenam, pada 17-19 Februari 2024, atau 16-18 Februari 2024 waktu setempat. Tempat pelaksanaan dan kebutuhan pertunjukan ini didukung oleh Institut Studi Islam Fahmina, Umah Ramah, dan Balad Kawit Seja.

Pertunjukan Keloid Reflections ditampilkan melalui metode transmedia yaitu dari novel “Keloid” (2022) menjadi perpaduan puisi, gerakan somatik dan musik instrumental yang mengiringinya. Karya pertunjukan ini diinisiasi oleh Rhaka Katresna (penggiat Balad Kawit Seja) yang tertarik setelah membaca novel yang diterbitkan Umah Ramah tersebut. Seketika itu, ia mengajak Napol Riel (penulis “Keloid” dan penggiat Umah Ramah) untuk berkolaborasi menampilkan pertunjukan Cermin Keloid secara daring dari kantor Umah Ramah dalam Peringatan IDAHOBIT oleh Arus Pelangi tahun lalu.

Selang beberapa bulan, Rhaka mengajukan proposal untuk menampilkan pertunjukan seni ini dalam konferensi UCR-QTSR yang kemudian diterima oleh pihak penyelenggara. Selain Napol, ia juga mengajak Lacahya (penggiat seni teater), Barr (mahasiswa dan penggiat seni sastra), dan Leon (komposer musik, illustrator dan kreator komik) untuk turut berkolaborasi.

Di sesi tanya-jawab, Rhaka menuturkan bahwa Keloid Reflections diwujudkan sebagai salah satu bentuk karya kolektif dalam upaya membangun kesadaran berwelas asih terhadap individu dengan ragam identitas ketubuhan; dalam konteks yang diceritakan di novella “Keloid”, yaitu terhadap individu trans laki-laki. “Keloid” sendiri menceritakan tentang kisah nyata perjalanan hidup dan pengalaman batin tokoh utama bernama Jenar sebagai trans laki-laki yang hidup di Indonesia dengan latar belakang keluarga Muslim.

Keloid Reflections melalui proses kreatif yang cukup menguras energi kawan-kawan penggiat yang terlibat. Sebelum menulis puisi bersama, mereka terlebih dahulu membaca buku Keloid dengan saksama; merefleksikan apa yang dialami tokoh Jenar dengan pengalaman hidup masing-masing. Hasil refleksi itu dituliskan dalam bentuk tangents (berupa ungkapan, komentar, atau pertanyaan kepada penulis) untuk didiskusikan bersama secara daring. Setelah diskusi refleksi, penulisan bait-bait puisi pun dilakukan. Tiap orang menuangkan ide-idenya ke dalam google document dari rumah masing-masing, yang kemudian disusun menjadi sebaris puisi.

Musik pengiring dikomposisikan oleh Leon berdasarkan mood dalam kisah Keloid. Para penampil–Rhaka dan Lacahya–berlatih menginterpretasikan proses refleksi mereka atas pengalaman transisi hidup Jenar–secara spiritual dan ketubuhan–ke dalam tubuh mereka masing-masing, melalui gerakan somatik mengikuti alunan musik dan pembacaan puisi oleh Barr.

Dua hari sebelum pentas, mereka yang akan tampil berkumpul untuk menyelaraskan semuanya ke dalam satu pertunjukan utuh; urutan persiapan, tata ruang pentas, pencahayaan, sistem pengeras suara, dan lainnya. Setelah dilakukan gladi resik beberapa kali, Keloid Reflections berhasil ditampilkan dengan baik di hadapan audiens konferensi UCR QTSR yang hadir secara luring maupun daring.

Antusiasme hadirin terlihat dalam sesi diskusi pasca penampilan mereka. Beberapa audiens berkomentar mengapresiasi karya kolektif ini. Beberapa yang lain, bertanya tentang proses kreatif dan konteks yang melatarbelakanginya. Respons audiens satu per satu ditanggapi Rhaka dan Napol–mewakili yang lainnya–dengan sukacita lantaran pesan dalam pertunjukan karya tersebut sampai kepada penonton.

Melalui proses tersebut dan wawasan berdasarkan pengalaman Rhaka, Barr, Lacahya, dan Leon–selain Napol sebagai penulis Keloid–dalam penggarapan karya ini, adalah benar bahwa karya ini mengafirmasi perkembangan psikologis, spiritual dan seksual dari trans laki-laki. Harapan dari karya ini adalah menginspirasi semakin bermunculan karya dan kerja kolektif serupa, serta diskusi-diskusi inklusif yang mengafirmasi pengalaman individu dengan ragam identitas ketubuhan; mereka yang pengalamannya sering kali terabaikan dan disalahartikan dalam masyarakat. []

Tulisan ini telah dipublikasi di website Umahramah.org dengan judul : “Keloid Reflections”: Welas Asih terhadap Individu dengan Ragam Identitas Ketubuhan

Ahmad Mahmudi Minta Mahasantriwa SUPI untuk Terus Riset dan Berpikir Kritis

ISIF CIREBON – Untuk menemukan kebenaran teman-teman mahasantriwa SUPI harus terus menerus untuk melakukan riset dan riset.

Karena dengan melakukan riset, otak kita akan terlatih untuk selalu berpikir kritis. Terutama saat kita melihat dan membaca realitas sosial di dalam kehidupan masyarakat.

Begitulah, seperti yang disampaikan Dewan Guru INSIST, Ahmad Mahmudi kepada seluruh mahasantriwa SUPI, di rumah Joglo, Majasem, Cirebon, pada Rabu, 26 Oktober 2022.

Lebih lanjut, Mantan Direktur LPTP itu menyampaikan, yang membedakan ISIF dengan perguruan tinggi lainnya adalah riset dan transformasinya.

Oleh karena itu, ia mengaku bersama Pak Rektor, Pak Marzuki Wahid terus mendorong dan menciptakan mahasiswa ISIF, terutama teman-teman SUPI untuk menjadi peneliti yang handal, yang bisa membangun dan melakukan perubahan di masyarakat.

Terlebih, melalui program SUPI ini teman-teman ini diminta untuk dapat melakukan perubahan kepada masyarakat, agar pandangan masyarakat bisa lebih terbuka untuk keadilan laki-laki dan perempuan, kemaslahatan, kemanusiaan dan kedamaian semesta.

“Tidak akan dikatakan mahasantriwa, kalau teman-teman SUPI belum melakukan riset. Dan tidak dikatakan mahasantriwa, kalau teman-teman SUPI belum terbiasa berpikir kritis,” katanya.

Ia berharap besar kepada teman-teman mahasantriwa SUPI, agar bisa benar-benar matang dalam risetnya, baik itu secara teori maupun praktik di lapangan nanti.

Pasalnya, dengan turun ke lapangan langsung, teman-teman SUPI akan bisa merasakan bagaimana kehidupan realitas sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Terlebih, teman-teman SUPI juga akan lebih banyak mendengar dan melihat realitas sosial. Karena dengan mendengar dan melihat akan bisa melatih untuk berpikir kritis, terutama melakukan transformasi sosial.

“Dalam melakukan riset ada yang disebut dengan metode sosial kritis, yaitu lebih banyak mendengarkan dan melihat realitas sosial,” jelasnya. []

Seminar Desa Preneurship : Upaya DEMA ISIF Ajak Mahasiswa Jaga Ketahanan Pangan

ISIF CIREBON – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) ISIF menggelar seminar Desa Preneurship di gedung auditorium Insitut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, pada Kamis, 16 Juni 2022.

Seminar yang bertajuk “Desa Preneurship: Membangun Perekonomian Desa Melalui Ekonomi Kreatif” itu dikaji oleh Penggagas Desa Preneurship, Budi Yuniarsa dan Direktur Lembaga Penjaminan Mutu (LPM)
Nadisa Astawi, Lc., M.Sh.

Budi Yuniarsa mengucapkan, desa preunership menjadi semangat untuk membangun desa berbasis ekonomi kreatif bagi para warganya.

“Desa preneurship menjadikan desa dapat bertahan dan berdaulat, salah satu contohnya dalam hal kedaulatan pangan,” kata Budi Yuniarsa.

Seminar yang dihadiri langsung oleh puluhan mahasiswa ISIF itu merupakan salah satu program DEMA ISIF untuk menambahkan pengetahuan, dan menambah relasi jaringan yang lebih luas.

“DEMA ingin menyelaraskan gerak dan peran mahasiswa dalam lingkup masyarakat dalam hal ini desa, dengan strategi pembangunan perekonomian desa yang salah satu caranya ialah dengan perspektif Desa Preneurship,” ucap Ketua DEMA ISIF, Gun Gun Gunawan.

Lebih lanjut, dia berharap seminar itu dapat menarik masyarakat desa untuk memiliki karakter wirausaha.

Sementara itu, Nadisa Astawi menyampaikan, Desa Preneurship adalah bagian dari prinsip Participation Action Research (PAR).

Pasalnya di dalam prinsip PAR mengandung cara komunikatif dan inovatif.

“Kampus desa adalah bagian dari PAR untuk dipadukan secara berkelanjutan dengan cara komunikatif dan inovatif secara bersama sama membangun kemandirian dan kedaulatan ketahanan pangan,” tukasnya. (Gun)

Studi Lapangan: Tradisi ISIF untuk Penguatan Mahasiswa dalam Riset Aksi

Masih hangat dalam ingatan, pada hari Senin 20 Februari 2017 di Gedung Negara BKPP Wilayah III Jawa Barat kemarin,  ISIF Cirebon telah sukses mewisuda 34 lulusannya yang secara mental (perspektif) dianggap siap menjadi transformer social di lingkungan masyarakatnya masing-masing.

ISIF yang berbasis Pesantren membangun perspektif bagi seluruh civitas akademikanya. Oleh karena itu, perspektif ISIF diyakini sebagai ruh akademik yang tidak semua mahasiswa di kampus lain memilikinya. Sebagaimana cita-cita ISIF yang tertuang dalam visi misinya, Terdepan dalam Riset dan Transformasi Sosial.

Tidak hanya itu, grand curriculum ISIF pun dirancang untuk meniupkan ruh ISIF sejak dini, yakni sejak semester 1 mahasiswa ISIF diterjunkan langsung ke lapangan untuk melek realitas.

Pada angkatan 2016/2017 misalnya, melalui program khusus mengisi waktu liburan semester 1, yakni Studi Lapangan. Mereka diterjunkan ke wilayah Cirebon Utara, Desa Mertasinga dan Desa Astana. Tanpa berbekal teori (grounded research), di lapangan mereka tanpa pengawalan dari dosen pendamping sama sekali. Dosen pendamping hanya mengantarkan ke Kepala Desa, selanjutnya mahasiswa menyebar tanpa tema apapun.

Alhasil, saat presentasi hasil studi lapangannya, para dosen dan tamu undangan terbelalak oleh karena data yang dihasilkan sangat valid dan semua dokumentasi sesuai dengan aturan riset, baik wawancara maupun gambar tidak bergerak dan bergerak. Seluruhnya disajikan melalui pro-show.

Angkatan sebelumnya, 2015/2016, pun demikian, saat masa Orientasi Kampus (OSPEK), dengan pola yang sama (grounded research), mereka disebar di berbagai titik, seperti Buntet Pesantren Cirebon, Pasar Kramatmulya Kuningan, dan Gunung Jati Cirebon. Hasilnya menjadi rujukan Praktik Islamologi Terapan (PIT) bagi mahasiswa semester atas (semester 6 atau 7). Bahkan, tidak jarang tema skripsi diinspirasi dari hasil studi lapangan tersebut.

Pengalaman penulis saat mendampingi mahasiswa yang sedang PIT di 4 Kecamatan Kab. Kuningan Jawa Barat, mendapat apresiasi sebagai kampus yang tidak eksploitatif terhadap data desa dan kontribusinya sangat nyata, yakni memberikan peta 3 dimensi sebagai acuan dalam pembuatan Sistem Informasi Desa.

Selain itu juga pengalaman penulis saat menduduki Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru tahun 2016/2017 yang lalu, orang tua/wali mahasiswa selalu saja menitipkan anaknya agar bermanfaat untuk masyarakat sekitar, tidak perlu pintar yang berlebih. Apa gunanya pintar, jika tidak bermanfaat bagi sekitar, ujarnya.

Semoga tahun ini, ISIF dikenal bukan karena kecakapan setumpuk teori belaka, tetapi kemanfaatan ilmu yang ditimba dari ISIF mampu menyirami kekeringan dunia akademik dari ruh kemanusiaan, kesetaraan dan keadilan dan mampu menjawab keresahan masyarakat yang saat ini dibombardir isu agama secara santun dan solutif