Trio Pelaku Sejarah Iduladha
Kisah kurban (Iduladha) bukan hanya kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tetapi juga kisah Sayyidah Hajar.
Baca SelengkapnyaInformasi terkini tentang kegiatan, riset, opini, dan kabar dari kampus Institut Studi Islam Fahmina Cirebon.
Kisah kurban (Iduladha) bukan hanya kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tetapi juga kisah Sayyidah Hajar.
Baca Selengkapnya
Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali gagasan KH. Abdurrahman Wahid tentang “Pribumisasi Islam”. Gus Dur sudah lama mengingatkan. Jangan Islamisasi pribumi. Tapi pribumisasikan Islam. Nilai Islam harus hadir. Tapi dalam wajah budaya kita sendiri.
Baca Selengkapnya
Kita tahu, dalam demokrasi kebenaran adalah fondasi deliberasi publik. Ketika fakta dipelintir atau diabaikan, ruang publik berubah menjadi arena konflik narasi yang destruktif. Dalam jangka panjang, kondisi ini menggerus kepercayaan publik dan membuka ruang manipulasi politik.
Baca Selengkapnya
Dalam tradisi demokrasi, ada satu prinsip yang tidak boleh ditawar, yaitu supremasi sipil. Artinya, militer dan aparat keamanan berada di bawah kendali kekuasaan sipil, bukan sebaliknya. Ketika batas ini mulai kabur, maka yang terancam bukan hanya demokrasi, tetapi juga kebebasan itu sendiri.
Baca Selengkapnya
Buku ini juga memberi penekanan penting pada pembedaan antara “politik Islam” dan “Islam politik”. Politik Islam dipahami sebagai praksis etis yang berorientasi pada kemaslahatan dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Sebaliknya, Islam politik sering kali menjadikan agama sebagai ideologi kekuasaan, yang berujung pada dominasi dan konflik.
Baca Selengkapnya
Sebagai kampus transformatif, ISIF melalui PIT-PAR mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dipraktikkan; bukan untuk kemuliaan individu, tetapi untuk keberdayaan masyarakat di mana kita bersamanya. PAR sebagai metodologi bukan sekadar pilihan akademik, tetapi manifestasi komitmen moral kampus pada keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian semesta.
Baca Selengkapnya
Islam harus menjadi kekuatan pembebas—yang berpihak pada kaum tertindas, membebaskan dari kejumudan, dan mendorong lahirnya masyarakat yang adil, setara, dan bermartabat. Inilah inti pemikiran Mas Imam yang paling berpengaruh terhadap kehidupan dan generasi bangsa.
Baca Selengkapnya
Transformasi sosial yang dilakukan Hanafi bisa dipayungi dengan dua kata kunci: “mentransmisikan warisan dan menciptakan yang baru”. Dalam program pembaharuannya, dengan demikian, Hanafi tidak hendak mengambil kebudayaan Barat dan nilai-nilai modernitasnya (al-turâts al-gharbî) secara totalitas sebagai alternatif pengganti warisan Islam yang dianggap usang itu.
Baca Selengkapnya
Ahl al-Ra’yi dalam pemahaman ini sebetulnya berusaha mensintesiskan antara yang lama dan yang baru (antara tradisi dan modernitas). Unsur lama yang baik dipertahankan dan unsur baru yang lebih baik dihadirkan (al-muhâfadhah ‘alâ al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah).
Baca Selengkapnya
Keputusan paradigmatik penerimaan NU atas Pancasila dan keberadaan negara-bangsa dikenal dengan “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Deklarasi ini merupakan simpul dan titik akhir dari bahtsul masa`il ulama NU tentang Pancasila sebagai ideologi negara, tentang wawasan kebangsaan, dan posisi Islam dalam negara-bangsa.
Baca Selengkapnya
Secara prinsipal, dalam pandangan NU, negara Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Bahkan, dalam bacaan saya, NU memandang negara Pancasila adalah bentuk lain dari negara Islam. Dengan kata lain, negara Pancasila adalah negara Islam itu sendiri. Seperti diketahui bahwa secara sosio-politik, negara Islam tidak pernah tunggal dan monolitik, tidak pula universal dalam bentuk yang seragam.
Baca Selengkapnya
Sebagai lembaga studi Islam, ISIF tentu memiliki bangunan Islam yang dicita-citakan. Islam dalam pandangan ISIF adalah instrumen Allah untuk menegakkan keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan dalam kehidupan kemanusiaan yang bermartabat di muka bumi.
Baca Selengkapnya