Oleh: Lia Fitriya Nengsih (Mahasiswa ISIF Cirebon)
ISIF Cirebon — Saya adalah salah satu mahasiswa yang sebenarnya tidak terlalu rajin membaca buku. Apalagi jika melihat buku yang tebal, biasanya rasa malas langsung muncul terlebih dahulu. Namun, pada mata kuliah Literasi Digital dan Teknik Penulisan Akademik, dosen memberikan tugas membaca novel. Menariknya, buku yang saya dapat justru lebih tebal dibanding milik teman-teman yang lain. Awalnya saya merasa ragu apakah saya mampu menyelesaikan bacaan tersebut atau tidak. Saya bahkan sempat berpikir bahwa membaca novel setebal itu akan sangat membosankan.
Namun, karena tugas tetap harus dikerjakan, akhirnya saya mencoba membaca sedikit demi sedikit sambil melakukan kegiatan lain. Ternyata, tanpa terasa saya sudah membaca cukup banyak bagian dari novel tersebut. Dari situ saya mulai merasa heran karena isi cerita dalam novel ini ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Judul novel ini adalah Ayah, tetapi pada bagian awal cerita justru lebih banyak membahas kisah cinta, persahabatan, dan kehidupan masa remaja di sekolah sehingga membuat saya semakin penasaran dengan isi ceritanya.
Kisah Cinta Sabari kepada Marlena
Novel Ayah karya Andrea Hirata memiliki cerita yang sederhana tetapi sangat menyentuh hati. Andrea Hirata mampu menggambarkan kehidupan masyarakat dengan bahasa yang ringan, lucu, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Walaupun banyak bagian yang membuat pembaca tertawa, ada juga bagian yang membuat pembaca merasa sedih dan terharu. Salah satu hal yang paling menarik dalam novel ini adalah tokoh Sabari.
Sabari digambarkan sebagai sosok laki-laki sederhana, lugu, dan sangat setia. Ia mencintai seorang perempuan bernama Marlena dengan sepenuh hati. Sayangnya, cinta Sabari sering kali tidak dianggap oleh Lena — sapaan akrab Marlena. Walaupun begitu, Sabari tetap bertahan dan tidak pernah berhenti mencintainya.
Pada bagian awal novel, Andrea Hirata memperlihatkan bagaimana Sabari jatuh cinta kepada Marlena sejak masa sekolah. Sabari sangat mengagumi Lena dan selalu berusaha membuat Lena bahagia. Namun, Lena justru sering bersikap cuek bahkan terkadang kasar terhadap Sabari.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika Sabari mengambil saputangan Lena yang jatuh di lapangan upacara. Dengan penuh rasa hormat dan gugup, Sabari menyerahkan saputangan tersebut kepada Lena. Akan tetapi, Lena justru berkata dengan nada marah:
“Siapa yang menyuruhmu mengambilnya?! Siapa?! Aku bisa mengambilnya sendiri!”
Walaupun diperlakukan seperti itu, Sabari tetap tidak marah. Ia tetap mencintai Lena dengan tulus. Bahkan ketika Sabari memenangkan lomba menulis puisi dan mendapatkan hadiah buku tulis, ia memberikan hadiah itu kepada Lena dengan harapan Lena bangga kepadanya. Namun lagi-lagi Lena menolaknya.
Kisah Sabari ini mengingatkan saya pada cerita cinta legendaris Laila dan Majnun. Qays mencintai Layla dengan sepenuh hati hingga ia dianggap gila karena cintanya. Kisah tersebut juga menunjukkan kesetiaan yang sangat besar terhadap orang yang dicintai. Dalam sumber yang saya baca dijelaskan bahwa Majnun terus mempertahankan cintanya kepada Layla walaupun harus menderita.
Dalam kisah tersebut, Majnun mencintai Laila dengan sangat dalam hingga ia dianggap gila karena cintanya. Sama seperti Majnun, Sabari juga mencintai Lena dengan penuh kesetiaan. Ia tidak mudah berpaling kepada perempuan lain meskipun cintanya sering tidak dihargai.
Menurut saya, cinta Sabari adalah gambaran cinta yang sangat tulus. Ia tidak mencintai karena ingin mendapatkan balasan, melainkan karena hatinya memang benar-benar mencintai Lena. Dalam kehidupan sekarang, mungkin sulit menemukan orang yang memiliki kesetiaan seperti Sabari.
Selain menggambarkan kisah cinta, Andrea Hirata juga memperlihatkan bagaimana cinta bisa membuat seseorang bertahan menghadapi berbagai rasa sakit dan kekecewaan. Sabari sering menderita karena Lena, tetapi ia tetap bertahan. Dari sini kita bisa melihat bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang perjuangan dan pengorbanan.
Sabari dan Kasih Sayangnya kepada Zorro
Salah satu bagian paling menyentuh dalam novel ini adalah hubungan Sabari dengan anaknya, Zorro. Walaupun kehidupan Sabari penuh kesulitan, ia tetap memiliki rasa sayang yang sangat besar kepada anaknya.
Ada satu adegan menarik ketika Sabari kehilangan kucing peliharaannya lalu mendatangi guru seni rupa SMA-nya, Bu Woeri. Ia meminta bantuan untuk menggambarkan kucing yang hilang tersebut. Adegan ini terdapat pada bagian cerita sekitar halaman 264–265. Namun ketika Sabari mulai menjelaskan ciri-ciri kucing itu, ternyata gambaran yang ia sebutkan justru lebih mirip wajah seorang anak kecil. Sabari menjelaskan bahwa muka kucing itu lonjong, memiliki mata indah, bulu mata lentik, dan senyum yang manis. Bu Woeri akhirnya sadar bahwa yang sebenarnya digambarkan Sabari bukanlah seekor kucing, melainkan wajah Zorro.
Bagian ini sangat menyentuh karena memperlihatkan bahwa Sabari selalu memikirkan anaknya. Kerinduannya kepada Zorro begitu besar sampai-sampai semua yang ia lihat mengingatkannya pada anak tersebut. Kasih sayang Sabari kepada Zorro memperlihatkan bahwa seorang ayah dapat memiliki cinta yang sangat dalam kepada anaknya. Anak yang mendapatkan perhatian dan pengasuhan dari ayah biasanya memiliki rasa percaya diri dan kemampuan sosial yang lebih baik. Walaupun Sabari dikenal sebagai orang yang sederhana dan terkadang dianggap aneh oleh masyarakat, sebenarnya ia memiliki hati yang sangat lembut.
Menurut saya, bagian ini menjadi salah satu bagian paling emosional dalam novel. Andrea Hirata berhasil menunjukkan bahwa cinta seorang ayah sering kali tidak banyak diucapkan dengan kata-kata, tetapi terlihat dari perhatian, kerinduan, dan pengorbanannya.
Kehidupan Sabari Setelah Kehilangan Zorro
Bagian lain yang sangat menyedihkan adalah ketika Sabari harus hidup terpisah dari Zorro. Kisah kehidupan Sabari setelah ditinggalkan Zorro diceritakan pada bagian sekitar halaman 280–283 novel. Kehilangan itu membuat hidup Sabari berubah total. Ia menjadi pribadi yang semakin murung dan kehilangan semangat hidup. Andrea Hirata menggambarkan perubahan hidup Sabari dari tahun ke tahun dengan cara yang sederhana tetapi sangat menyentuh.
Pada tahun pertama setelah ditinggalkan Lena dan Zorro, Sabari masih tinggal di rumahnya. Karena sudah tidak memiliki warung dan kambing, ia hidup dengan menggembala ternak milik tetangga. Teman-temannya sesekali membantu mengantarkan beras.
Tahun kedua, hidup Sabari masih sama. Ia tetap menggembala kambing dan sapi sambil menjalani hidup dengan kesedihan. Tahun ketiga menjadi bagian yang sangat menyedihkan. Ketika orang lain tertawa menonton acara lawak di televisi, Sabari justru menangis. Hal ini menunjukkan bahwa hatinya benar-benar hancur.
Pada tahun-tahun berikutnya, kondisi Sabari semakin memburuk. Ia mulai terlihat kebingungan dan kehilangan arah hidup. Bahkan ia sampai takut melihat televisi karena pikirannya sudah tidak lagi normal. Pada akhirnya, Sabari tidak lagi tinggal di rumahnya. Ia hidup menggelandang di pasar ikan bersama kucing-kucing liar dan anjing kurap.
Bagian ini menunjukkan betapa besar rasa kehilangan yang dirasakan Sabari. Kehilangan anak yang sangat dicintainya membuat hidupnya perlahan hancur. Dari sini kita bisa melihat bahwa hubungan antara ayah dan anak bukan sekadar hubungan biasa, tetapi hubungan batin yang sangat kuat.
Makna Ayah dalam Kehidupan
Novel Ayah karya Andrea Hirata adalah novel yang sangat menarik dan penuh makna. Novel ini tidak hanya menceritakan kisah cinta Sabari kepada Marlena, tetapi juga menggambarkan betapa besar kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Tokoh Sabari menjadi gambaran sosok ayah yang penuh cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Walaupun hidupnya penuh penderitaan, ia tetap memiliki rasa sayang yang sangat besar kepada Zorro.
Walaupun bagian awal novel banyak menceritakan kisah cinta Sabari, sebenarnya inti utama novel ini adalah tentang arti seorang ayah. Kata “ayah” bukan hanya berarti ayah kandung secara biologis, tetapi juga seseorang yang bertanggung jawab menjaga, merawat, dan menyayangi anak dengan sepenuh hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, sosok ayah sering dianggap hanya sebagai pencari nafkah. Padahal sebenarnya peran ayah jauh lebih besar daripada itu. Ayah juga memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak, memberikan kasih sayang, menjadi pelindung, serta memberikan dukungan emosional.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sangat penting. Keterlibatan ayah diartikan sebagai sikap yang diberikan ayah kepada anak dalam bentuk perhatian, dukungan emosional, komunikasi, kedekatan, dan waktu yang dihabiskan bersama anak. Ayah yang dekat dengan anak biasanya mampu membuat anak merasa lebih percaya diri, lebih bahagia, dan memiliki kemampuan sosial yang baik. Kehadiran ayah juga membantu anak merasa aman dan dicintai.
Novel Ayah menunjukkan bahwa kasih sayang seorang ayah bisa sangat besar bahkan melebihi apa pun. Sabari adalah contoh seseorang yang begitu mencintai anaknya. Perasaan itu terlihat jelas ketika ia sangat merindukan Zorro.
Nilai-Nilai Kehidupan dalam Novel Ayah
Novel Ayah tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh pembaca.
1. Kesetiaan
Sabari adalah sosok yang sangat setia. Ia tetap mencintai Lena walaupun sering disakiti dan diabaikan. Kesetiaan Sabari mengajarkan bahwa cinta sejati membutuhkan ketulusan dan kesabaran.
2. Kasih Sayang Orang Tua
Novel ini menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua, terutama ayah, sangat besar. Kadang kasih sayang ayah tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata manis, tetapi melalui perjuangan dan pengorbanan.
3. Pengorbanan
Sabari rela melakukan apa saja demi orang-orang yang ia cintai. Ia bertahan dalam penderitaan dan tetap menjalani hidup walaupun penuh kesulitan.
4. Kesabaran
Dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan. Sabari berkali-kali mengalami kegagalan dan kesedihan, tetapi ia tetap bertahan. Hal ini mengajarkan pembaca untuk sabar menghadapi masalah hidup.
5. Arti Keluarga
Novel ini juga mengingatkan bahwa keluarga adalah hal yang sangat penting. Kehadiran keluarga dapat menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber kekuatan dalam hidup seseorang.
Kelebihan Novel Ayah
Menurut saya, novel Ayah memiliki banyak kelebihan. Pertama, bahasa yang digunakan Andrea Hirata sangat ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Walaupun membahas hal-hal yang cukup berat seperti kehilangan dan penderitaan, cerita tetap terasa nyaman dibaca. Kedua, tokoh-tokoh dalam novel ini terasa sangat hidup. Pembaca dapat merasakan emosi para tokohnya, terutama Sabari.
Ketiga, cerita dalam novel ini dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pembaca bisa melihat bagaimana kehidupan orang sederhana dengan segala perjuangan dan masalahnya. Keempat, novel ini memiliki banyak pesan moral yang sangat baik, terutama tentang cinta keluarga dan kasih sayang seorang ayah.
Penutup
Melalui novel ini, pembaca dapat belajar bahwa keluarga adalah hal yang sangat berharga. Kasih sayang seorang ayah mungkin sering tidak terlihat secara langsung, tetapi sebenarnya sangat besar dan tulus. Novel ini juga mengajarkan tentang arti kesabaran, perjuangan, dan ketulusan dalam mencintai. Karena itulah menurut saya novel Ayah layak dibaca oleh semua kalangan, terutama anak muda agar lebih menghargai keluarga dan orang tua.
Setelah membaca novel ini, saya menyadari bahwa membaca buku ternyata tidak selalu membosankan. Justru dari sebuah novel, kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, cinta, keluarga, dan perasaan manusia. Novel Ayah menjadi salah satu novel yang memberikan kesan mendalam bagi saya karena mampu membuat pembaca tertawa, sedih, sekaligus terharu dalam satu cerita. []