Artikel 22 Juni 2026 3 menit

Dominasi Budaya Patriaki terhadap Perempuan dalam Novel Cantik Itu Luka

A
Admin ISIF
Kontributor ISIF Cirebon

Oleh Nurul Laeli (Mahasiswa ISIF Cirebon)

ISIF Cirebon — Tak ada yang lebih menyedihkan daripada menjadi sangat cantik di dunia yang kejam. Ironi inilah yang kemudian mewarnai keseluruhan cerita dalam novel, yang memperlihatkan bagaimana kehidupan perempuan sering kali dihadapkan pada berbagai bentuk penderitaan, ketidakadilan, dan relasi kuasa yang mengekang. Novel Cantik Itu Luka merupakan karya sastra yang menyajikan kisah kehidupan perempuan dengan latar belakang sejarah dan sosial, tidak luput dari kisah magis, pengorbanan bahkan percintaan yang menyimpan kritik tajam terhadap ketidakadilan gender, budaya patriaki, serta teori feminisme.

Melalui pendekatan feminisme, Cantik Itu Luka dapat dipahami sebagai kritik budaya patriaki yang merugikan banyak perempuan. Tokoh-tokoh perempuan seperti, Dewi Ayu, Alamanda, Maya Dewi dan Si Cantik dalam novel ini menunjukkan bagaimana ketidakadilan gender terjadi dalam berbagai bentuk. Namun di sisi lain, mereka juga menunjukkan kekuatan dan ketahanan, bukan hanya sebagai korban tapi sebagai simbol kemampuan untuk bertahan dan melawan.

Novel Cantik itu Luka merupakan karya Eka Kurniawan, seorang penulis karya sastra yang berasal dari Tasikmalaya. Ia lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada 1999, dan di tahun yang sama, ia menerbitkan karya pertamanya, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Dan novel Cantik Itu Luka pertama kali terbit 2002 dan telah diterbitkan dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu , dan dalam bahasa Malaysia dengan judul yang sama.

Isu ketidaksetaraan gender berperan penting dalam pembangunan alur novel ini, karena hampir seluruh tokoh perempuan mengalaminya. Mereka tidak hanya menghadapi masalah pribadi, tetapi juga harus mengalami tekanan sosial sebagaimana yang diceritakan novel di halaman 21:

“Ketika Rosinah bertanya apa yang ia lakukan malam-malam di beranda, Si Cantik menjawab sebagaimana ia berkata kepada ibunya ‘menanti pangeranku datang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa’. Gadis yang malang kata ibunya malam itu, malam pertama mereka berjumpa, kau seharusnya menari dengan riang karena anugerah terebut. Masuklah.”

Kutiapan tersebut selaras dengan pendapat Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, yang menyatakan bahwa ketidaksetaraan gender bukan kodrat (biologis), melainkan konstruksi sosial dan kultural,  di mana ia menempatkan salah satu jenis kelamin pada posisi subordinat. Ketidakadilan ini bisa saja berbentuk marginalisasi, subordinasi, beban ganda, stereotip, maupun kekerasan.

Tokoh Dewi Ayu menjadi contoh paling jelas, ia harus menjalani kehidupan yang keras bahkan tubuhnya sering dijadikan alat untuk memenuhi keingian orang lain terutama kaum laki-laki. Pengalaman tersebut berakar pada situasi sosial pada masa kolonial yang menempatkan perempuan dalam posisi yang lemah dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri, sehingga banyak perempuan dipaksa menjadi pelacur.

Dari contoh Dewi Ayu terlihat sekali kentalnya budaya patriaki, perempuan sering dinilai dari penampilan fisik, terutama kecantikan. Dan kecantikan perempuan seakan menjadi nilai jual yang tinggi. Perempuan cantik menjadi standar bahkan budaya patriaki masih terasa sampai zaman sekarang ini.

Meskipun banyak mengalami penderitaan, penokohan perempuan dalam novel ini tidak sepenuhnya lemah, mereka tetap menunjukkan kekuatan dan ketahanan dalam menghadapi hidup, dalam kutipan:

Lebih baik hidup dalam aib daripada harus kehilangan anakku.

Betapa besarnya pengorbanan perempuan dalam kehidupan sosial ini terutama seorang ibu seperti Dewi Ayu yang berjuang dan memikirkan nasib anak-anaknya harus jauh lebih baik, meskipun terlahir dari rahim seorang pelacur. Pemikirannya ini selaras dengan teori feminisme Simone de Beauvoir yang meyakini bahwa tidak ada takdir biologis yang membuat perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Perempuan diciptakan atau dikonstruksi oleh masyarakat melalui sejarah dan budaya patriarki.

Novel Cantik Itu Luka bukan hanya sekadar cerita fiksi, ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana, novel ini menggambarkan pengorbaan dan kekuatan seorang perempuan, juga sebagai cerminan realitas sosial yang masih terjadi hingga saat ini. Kisah dalam novel ini mengajak kita untuk peka terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan dan pentingnya memperjuangkan kesetaraan gender. Di balik penderitaan, terdapat kekuatan, dan dari situlah perubahan bisa dimulai.

Bagikan Artikel Ini: