ISIF Cirebon — Perpustakaan yang selama ini kita ketahui hanyalah kumpulan rak buku, gudang ilmu pengetahuan, dan sebagai laboratorium intelektual. Namun jika kita telisik lebih dalam, tanpa kita sadari, setiap pengetahuan, ide, dan wacana yang kemudian yang telah terkodifikasi disusun rapih pada rak perpustakaan tidak pernah bebas nilai, ia selalu memiliki asal-usul dimana dan mengapa pengetahuan itu lahir. Ia tidak lahir dari ruang kosong, ia lahir dari keterpengaruhan lingkungan sosial, budaya, dan agama. Sehingga tidak ada buku yang tersusun dalam rak perpustakaan sepenuhnya objektif tanpa keterpengaruhan apapun. Lantas, apakah perpustakaan harus mengikuti keyakinan tertentu untuk apa yang perlu dibaca atau dipelajari?
Perpustakaan sebagai ruang epistemik, tidak hanya menjadi tempat yang hanya menyajikan satu perspektif pemikiran, melainkan menjadi ruang yang memungkinkan untuk menghadirkan, mempertemukan, dan medialogkan berbagai pemikiran. Di perpustakaan, buku-buku mengenai agama dapat bersanding dengan buku tentang atheisme, filsafat, gender, sastra, sains, dan berbagai pemikiran kritis lainnya, sehingga membentuk keberagaman epistemik. Akan tetapi bukan berarti di dalam perpustakaan meyakini bahwa semua gagasan kebenaran adalah sama, melainkan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menguji, mengetahui, memahami, membandingkan, dan menilai berbagai gagasan secara mandiri.
Perpustakaan sebagai Ruang Aman Pencarian Pengetahuan
Perpustakaan sebagai laboratorium intelektual, tidak hanya berperan sebagai ruang menemukan jawaban, akan tetapi menjadi ruang seseorang belajar mengajukan pertanyaan, menggugat kemapanan, dan mendialektikakan pengetahuan di antara rak-rak buku perpustakaan. Manusia memiliki akal budi atau rasio sebagai kapasitas kodrati, yang memiliki fungsi sebagai pencari pengetahuan dan kebenaran, sehingga memungkinkan manusia untuk selalu mencari pengetahuan.
Manusia seharusnya memiliki kebebasan bertanya seperti apakah pengetahuan yang ia yakini itu benar? Mengapa ia harus mempercayai jika pengetahuan ini benar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tanpa terbentur dogma yang mengikat pada dirinya, mengajukan pertanyaan bukan sebagai tanda menghancurkan keyakinannya, melainkan bagian dari proses memeriksa kembali sesuatu yang kita percaya untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.
Apakah Tuhan Tidak Ada di Perpustakaan?
Perpustakaan tanpa tuhan, sebagai ruang keraguan dan titik awal menemukan pengetahuan baru, karena ia hadir sebagai ruang aman. Di perpustakaan, seorang pembaca boleh percaya, atau tidak, atau masih mencari jawaban. Dari pertanyaan yang melahirkan keraguan seseorang itu, ia akan membaca lebih banyak, membandingkan lebih dalam, dan berpikir lebih kritis.
Istilah perpustakaan tanpa tuhan adalah bukan bentuk penolakan terhadap keberadaan tuhan, melainkan sebuah istilah metafor untuk menggambarkan ruang epistemik yang netral tanpa keterpengaruhan keyakinan metafisik. Di perpustakaan tidak ada paksaan untuk seorang pembaca untuk mengimani keyakinan tertentu terhadap apa yang dibaca dan dipelajari, tidak ada paksaan untuk menjadi seorang theis atau atheis, saintis atau religius. Tugas utama perpustakaan adalah menyediakan ruang terbuka bagi siapapun untuk memcari pengetahuan tanpa dibatasi oleh agama, identitas, maupun ideologi apapun. Yang terpenting adalah manusia dapat membaca, menjadi ruang dialog antar pemikiran, mempertanyakan, dan membentuk pemikirannya sendiri.
Perlu ditekankan kembali bahwa perpustakaan tanpa tuhan, bukan berarti memusuhi agama maupun menafikan eksistensi tuhan. Tanpa tuhan dimaknai sebagai tidak menjadikan keyakinan tentang tuhan, sebagai tembok penghalang untuk masuknya segala bentuk pengetahuan. Perpustakaan tidak menuntut menentukan apakah seorang pembaca harus percaya atau tidak percaya kepada tuhan.
Nalar di Atas Dogma
Di awal telah disebutkan bahwa setiap pengetahun tidak bebas nilai, perlu menekankan pentingnya berpikir kritis dan tidak mudah menerima suatu klaim hanya karena klaim tersebut dianggap memiliki otoritas. Kita perlu menggugat, memeriksa kembali, dan memperdebatkan segala pengetahuan yang sampai kepada kita. Dengan metode meragukan (skeptisme) kita lebih memiliki sikap untuk mencari alasan dan bukti sebelum menerima suatu klaim. Dan perpustakaan dapat menjadi tempat yang ideal bagi pembaca untuk dapat menemukan berbagai sumber dan mengujinya.
Dalam pencarian pengetahuan, Stewart Cohen di dalam Routledge Encyclopedia of Philophy mengatakan bahwa:
“Secara umum skeptisisme adalah pandangan, bahwa orang tidak mungkin bisa sampai pada pengetahuan. Di dalam pandangan para pemikir skeptis yang lebih moderat, manusia masih bisa sampai pada pengetahuan, namun tidak akan pernah sampai pada kepastian. Di dalam pandangan yang lebih radikal, pengetahuan manusia tidak pernah bisa didasarkan pada argumen yang masuk akal. Dengan kata lain pengetahuan itu irrasional. Argumentasi adalah sekumpulan kata-kata kosong untuk membuktikan sesuatu yang memang tidak bisa dibuktikan.”
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa skeptisisme memiliki spektrum yang luas, mulai dari keraguan terhadap kemungkinan mencapai kepastian hingga pandangan yang lebih radikal yang mempertanyakan kemungkinan pengetahuan itu sendiri. Dalam konteks pencarian pengetahuan, yang relevan bukanlah menjadikan keraguan sebagai tujuan akhir, melainkan menjadikannya sebagai cara untuk memeriksa kembali apa yang kita anggap benar.
Dengan sikap tersebut, seseorang didorong untuk mencari alasan, membandingkan sumber, dan melihat bukti sebelum menerima suatu klaim. Perpustakaan kemudian menjadi salah satu ruang yang memungkinkan proses tersebut berlangsung karena di dalamnya pembaca dapat menemukan berbagai sumber dan mempertemukan beragam pandangan untuk diperiksa dan dibandingkan.
Sikap kritis semacam ini penting karena dalam proses pencarian pengetahuan selalu terdapat kemungkinan munculnya dogmatisme. Dogmatisme terkadang menjadi penghalang seseorang untuk berpikir kritis, sehingga nalar yang menjadi kapisitas kodrati manusia tidak berfungsi. Bukan hanya dogma agama, ideologi, bahkan klaim ilmiah yang tidak terbukti juga dapat menjadi dogmatis jika tidak boleh dipertanyakan.
Gagasan tentang pentingnya kebebasan berpikir tersebut dapat dilihat dalam pemikiran Bertrand Russell, seorang filsuf Inggris, dalam bukunya Why I Am Not a Christian. Russell mengatakan bahwa:
“Kita ingin berdiri di atas kaki sendiri dan memandang dunia secara jujur dan terbuka—segala sisi baik dan buruknya, keindahan maupun keburukannya; melihat dunia sebagaimana adanya, tanpa rasa takut. Kita ingin menaklukkan dunia dengan kecerdasan, bukan sekadar tunduk secara hina di hadapan teror yang ditimbulkannya. Gagasan tentang Tuhan pada dasarnya berasal dari sistem despotisme Timur kuno; sebuah gagasan yang sama sekali tidak pantas bagi manusia yang merdeka…
Dunia yang baik membutuhkan pengetahuan, kebaikan hati, dan keberanian; dunia tidak membutuhkan kerinduan yang sia-sia akan masa lalu, ataupun pengekangan akal budi yang merdeka oleh kata-kata yang diucapkan orang-orang zaman dahulu yang kurang berpengetahuan. Dunia membutuhkan pandangan yang tak kenal takut serta kecerdasan yang bebas. Dunia membutuhkan harapan akan masa depan, bukan terus-menerus menoleh ke masa lalu yang telah mati—masa lalu yang kita yakini akan jauh dilampaui oleh masa depan yang mampu kita ciptakan melalui kecerdasan kita.”
Dengan penjelasan Russel dapat kita pahami, bahwa pengetahuan harus dilindungi dari dominasi dogma agar kebebasan berpikir tetap terjaga, dan nalar kritis tetap hidup tidak terkubur oleh dogmatis yang mengkungkung pemikiran manusia. Meskipun dogma menjadi problem kejumudan berpikir akan tetapi karya-karya yang mengandung dogma tetap memiliki tempat, tetapi tidak menjadi satu-satunya sumber kebenaran yang diberlakukan kepada semua pembaca.
Perpustakaan tanpa tuhan, sebagai bentuk tidak ada otoritas tertinggi dalam setiap rak buku di perpustakaan. Perpustakaan bukan tempat untuk menentukan apa yang harus dipercayai, tetapi tempat untuk membantu manusia memahami mengapa sesuatu dipercaya, bagaimana suatu gagasan dibangun, dan apakah gagasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Perpustakaan tanpa tuhan sebagai ruang kebebasan intelektual yang memungkinkan sesorang mencari kebenaran melalui proses berpikirnya sendiri. Tabik.