Sumber gambar: Kompas
Oleh: Sukma Hadi Watalam (Dosen ISIF Cirebon)
ISIF Cirebon — Secara logika, menerima bantuan mestinya bikin senang. Tapi kenyataannya? Orang malah khawatir, bingung, bahkan sesekali ingin tepuk jidat. Bukan sekali dua kali, anak-anak yang seharusnya mendapat gizi cukup, sehat, dan cerdas dari makanan yang dimasak chef bersertifikat dan didampingi ahli gizi, malah sakit setelah makan.
Bayangkan: “menu spesial masa depan” ini ternyata lebih cocok jadi bahan meme daripada kenyataan. Bahkan di Jawa Barat, ribuan anak mengalami hal serupa. Jadi pertanyaannya: ahli gizi atau ahli sulap nih? Kok bisa makanan berubah jadi penyihir yang bikin anak muntah-muntah?
Beberapa kasus ekstrem bikin orang tua geleng-geleng kepala: anak sampai dilarikan ke rumah sakit karena makanan bau dan rasanya “unik”. Unik di sini maksudnya bukan lezat, tapi lebih ke kategori eksperimen sains yang gagal. Ahli gizi dan chef yang digaji mahal ini, apa mereka pakai rumus matematika rahasia atau cuma lempar-lempar bumbu? Jangan-jangan, ini program “Masak Ala Kadarnya” versi triliunan rupiah.
Yang bikin pusing, pemerintah dan pihak terkait seolah menutup mata. Bukannya evaluasi atau introspeksi, malah buka cabang baru di sana-sini. Bukannya “off” dulu, malah “on” terus—kayak lampu yang tak bisa dimatikan. Apakah ini manajemen modern atau sekadar ajang pencitraan dengan menu drama gratis? Anehnya, semakin parah, semakin semangat buka cabang baru. Kalau gini, mungkin sebentar lagi ada menu “Makan Sehat, Sakit Gratis” edisi terbatas di tiap kota.
Di tengah kritik publik, Presiden Prabowo bahkan pernah mengatakan: “Yang keracunan hanya 200 dari 3 juta orang, berarti keberhasilannya 99,99%.” Angka 3 juta orang sekian memang terdengar indah di kalkulator, tapi di lapangan 200 anak itu nyata—muntah, sakit, bahkan masuk rumah sakit. Bagi mereka, itu bukan 0,006%, tapi 100% penderitaan. Kalau logikanya begitu, nanti kalau ada 20 ribu anak yang keracunan pun masih bisa disebut sukses 99%. Wah, ini bukan program makan bergizi, tapi program uji nyali massal.
Ironisnya, yang mestinya jadi menu sehat malah jadi paket hemat: “Nasi Box + Infus Gratis”. Jangan-jangan sebentar lagi ada promo baru: “Tertawa Sebelum Masuk IGD”. Program triliunan rupiah ini lebih cocok jadi stand-up comedy ketimbang kebijakan serius.
Triliunan rupiah sudah digelontorkan, tapi hasilnya ala kadarnya. Kualitas makanan minimal, pengawasan minimal. Tanggung jawab? Juga minimal. Sudah jelas bahwa dana tidak benar-benar turun ke anak-anak, tapi entah menguap ke mana—mungkin jadi bumbu rahasia agar rasa makanan jadi “unik”. Anak-anak, yang seharusnya prioritas, jadi korban. Investasi masa depan berubah jadi eksperimen mahal yang bikin geleng kepala.
Fenomena ini juga menunjukkan kegagalan sistemik. Banyak pihak terlibat—chef, ahli gizi, penyedia logistik, pemerintah daerah—tapi hasilnya tetap sama: anak-anak sakit, orang tua resah, kepercayaan publik turun. Bukannya diperbaiki, malah menimbulkan pertanyaan serius soal akuntabilitas. Triliunan rupiah seakan menghilang ke dimensi paralel, sementara anak-anak tetap menghadapi menu “bau misterius”.
Kalau ini terus berlanjut, lebih baik dana dialihkan ke program yang lebih aman dan jelas manfaatnya. Makanan untuk anak-anak bukan ajang eksperimen, apalagi ajang pencitraan politik. Anak-anak seharusnya tumbuh sehat, cerdas, dan ceria, bukan trauma atau sakit karena makanan “versi kreatif ala kadarnya”. Sudah saatnya evaluasi serius dilakukan, bukan menambah cabang baru yang kemungkinan besar akan mengulang drama lama.
Yang lebih menyedihkan, triliunan rupiah seakan cuma jadi “uang mainan” buat drama berkepanjangan. Alih-alih membangun generasi cerdas, kita menyaksikan program gagal yang bisa jadi viral karena absurdnya. Pemerintah dan pihak terkait perlu introspeksi: apakah ini benar-benar investasi masa depan, atau cuma show gratis buat konten media sosial? Kalau dana tidak dimanfaatkan dengan benar, itu bukan sekadar sia-sia, tapi juga komedi tragis dengan anak-anak sebagai penonton.
Sudah saatnya ada transparansi, pengawasan ketat, dan evaluasi menyeluruh. Setiap rupiah harus menghasilkan manfaat nyata, bukan lelucon triliunan rupiah ala kadarnya. Anak-anak bukan objek percobaan, dan triliunan rupiah bukan mainan. Kalau ingin masa depan berhasil, jangan lagi ulang drama lama—lebih baik berhenti sejenak, menata ulang, dan memastikan setiap langkah nyata dan berfaedah.[]