ISIF Cirebon -- Setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam setiap tahunnya, kita selalu mengenang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kita mengenang peristiwa agung pengorbanan yang menjadi asal mula ibadah kurban (Iduladha). Tetapi sering kali melupakan satu nama, nyaris tidak disebut. Padahal tanpa dirinya, mungkin sejarah haji dan Makkah tidak akan pernah lahir seperti yang kita kenal hari ini.
Nama itu adalah Sayyidah Hajar. Seorang perempuan. Seorang ibu. Seorang manusia yang jejak langkahnya diabadikan Allah menjadi ritual suci yang dipraktikkan jutaan manusia dari seluruh dunia setiap tahun.
Allah SWT mengabadikan dalam firmanNya“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah bagian dari syiar Allah.” Ayat ini sangat dalam maknanya. Allah menegaskan bahwa Shafa dan Marwah bukan sekadar bukit. Di sana ada jejak kecemasan seorang ibu. Ada air mata perempuan yang berlari demi menyelamatkan anaknya. Ada perjuangan menjaga kehidupan. Subjek perjuangan itu adalah Sayyidah Hajar.
Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah meninggalkan Sayyidah Hajar dan bayi Ismail di lembah tandus Makkah, Sayyidah Hajar bertanya: “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Nabi Ibrahim menjawab: “Ya.” Lalu, Sayyidah Hajar meneguhkan, “Idzan, lâ yudlayyi’unâ Allâhu” (kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami).
Kalimat ini lahir bukan dari kenyamanan hidup yang serba berkecukupan. Kalimat ini lahir di tengah gurun yang sunyi, tanpa rumah, tanpa manusia, tanpa perlindungan. Lalu, Sayyidah Hajar ditinggalkan oleh sang suami. Di tengah semua itu, Sayyidah Hajar percaya kepada Allah.
Imam Ibnu Katsir berkomentar, “wa hâdza min kamâli îmânihâ wa syiddati yaqînihâ billâh” (Ini menunjukkan kesempurnaan iman Hajar dan kuatnya keyakinannya kepada Allah).
Memuliakan Perjuangan Perempuan
Ketika air habis dan Ismail menangis kehausan, Sayyidah Hajar tidak hanya duduk menunggu mukjizat. Beliau berlari. Dari Shafa ke Marwah. Dari Marwah ke Shafa. Bolak-balik tujuh kali.
Hari ini jutaan manusia dari seluruh dunia di Makkah menapaktilasi jejak langkah kaki Sayyidah Hajar. Itulah ritual sa’i yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian haji dan umrah (rukun). Yang tanpanya, haji dan umrah tidak sah.
Betapa Islam sangat memuliakan perjuangan perempuan. Yang diabadikan Allah bukan istana raja. Bukan mahkota penguasa. Bukan pedang para penakluk. Apalagi proyek strategis nasional. Tetapi langkah kaki seorang ibu yang panik mencari air untuk anaknya.
“Ja’ala Allâhu sa’yahâ sya’îratan min sya’âiril hajji ikrâman lahâ” (Allah menjadikan sa’i Hajar sebagai syiar haji sebagai bentuk pemuliaan baginya),” komentar Imam al-Qurthubi.
Kemudian Allah menghadirkan mukjizat. Dari dekat kaki Ismail memancarlah air Zamzam. Air yang diminum miliaran manusia hingga hari ini. Air yang menjadi sumber kehidupan Makkah. Bahkan air itu lahir dari perjuangan seorang perempuan.
Ketika Ismail dewasa, Nabi Ibrahim datang kembali ke Makkah dan bersama Ismail membangun Ka’bah. Tanpa perjuangan Sayyidah Hajar yang menjaga kehidupan di lembah itu sebelumnya, Ka’bah tidak akan berdiri tegak di sana.
Karena itu sebagian ulama menyebut, Ibrahim membangun Ka’bah, Sayyidah Hajar menjaga kehidupan di sekelilingnya.
Atas perjuangannya, Nabi SAW bersabda: “yarhamu Allâhu umma Ismâ’îla, law tarakat zamzama, aw qâ’la: law lam taghrif minal mâ’i lakânat zamzamu ‘ainan mu’înan” (Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam mengalir, niscaya Zamzam akan menjadi sungai yang besar). (HR. Bukhari)
Perhatikan. Nabi Muhammad SAW menyebut Sayyidah Hajar dengan penuh penghormatan: Umma Isma’il (Ibu Ismail). Karena dalam Islam, menjadi ibu bukan kedudukan kecil. Dari perjuangan seorang ibu lahir peradaban besar.
Rahim Sayyidah Hajar
Dari rahim Sayyidah Hajar lahirlah Nabi Ismail AS. Bahkan dari keturunan Nabi Ismail inilah kemudian lahir bangsa Arab Adnaniyyah, hingga akhirnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Artinya, di balik lahirnya Rasulullah SAW, ada perjuangan seorang perempuan bernama Sayyidah Hajar.
Karena itu secara spiritual dan genealogis, Sayyidah Hajar adalah nenek moyang Rasulullah SAW, ibu garis kenabian Islam dari Arab, salah satu perempuan terpenting dalam sejarah tauhid.
Sedangkan nabi-nabi dari Bani Israil lahir dari Sayyidah Sarah, istri Nabi Ibrahim yang lain. Dari Sayyidah Sarah, lahir Nabi Ishaq. Dari Nabi Ishaq, lahir banyak nabi Bani Israil seperti Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Isa AS.
Tetapi sering kali sejarah hanya menyebut laki-laki. Perempuan dilupakan. Padahal Islam sejak awal telah menunjukkan bahwa perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan juga pembentuk peradaban tauhid.
Fakta historis ini seharusnya mengubah cara kita memandang perempuan. Jangan meremehkan perjuangan emak-emak. Jangan menganggap pengasuhan, melahirkan, menyusui, menjaga keluarga, dan mempertahankan kehidupan sebagai pekerjaan kecil. Karena peradaban besar sering lahir dari rahim perempuan yang sabar. Allah sendiri mengabadikan perjuangan seorang ibu menjadi ritual haji dan umrah umat Islam sepanjang zaman.
Nabi Ibrahim memang siap ‘mengorbankan’ Ismail. Tetapi siapa yang mengandung Ismail? Siapa yang melahirkan? Siapa yang menyusui? Lalu siapa yang membesarkan Ismail di gurun tandus hingga menjadi anak saleh? Ya, Sayyidah Hajar. Pengorbanannya tidak pernah kecil di hadapan-Nya. Bahkan jejak langkahnya Allah abadikan sebagai ibadah umat manusia sepanjang masa.
Kesimpulan saya: kisah kurban (Iduladha) bukan hanya kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tetapi juga kisah Sayyidah Hajar. Nabi Ibrahim, Sayyidah Hajar, dan Nabi Isma’il adalah trio pembentuk sejarah Iduladha. Jangan lupakan perempuan dalam sejarah ini.[]
Artikel ini telah terbit sebelumnya di laman Mubadalah.id pada 28/05/2026 (https://mubadalah.id/trio-pelaku-sejarah-iduladha/)