Kolom Rektor 01 April 2026 5 menit baca

Islam Bukan Arab, Arab Tidak Selalu Islam

A
Admin ISIF
Kontributor ISIF Cirebon

Oleh: Marzuki Wahid (Rektor Institut Studi Islam Fahmina Cirebon) 

ISIF Cirebon — Mari kita jernihkan satu hal. Islam bukan Arab. Arab tidak selalu Islam. Dua hal ini sering dicampuradukkan. Akibatnya fatal. Kita kehilangan kemampuan membedakan agama dari politik, wahyu dari kepentingan, dan nilai dari simbol.

Lihat apa yang terjadi hari ini. Negara-negara Arab, terutama di Teluk, justru berdiri dekat dengan Amerika Serikat. Dalam banyak kasus, mereka lebih selaras dengan kepentingan Washington daripada dengan penderitaan Gaza. Sementara itu, Iran justru tampil berhadapan langsung dengan Israel dan Amerika dalam isu Palestina.

Ini bukan soal membela Iran atau menyalahkan Arab. Ini soal membaca realitas secara jernih. Politik adalah politik. Agama adalah agama. Jangan dicampur. Amerika bukan negara Muslim. Presidennya bukan Muslim. Iran mayoritas Muslim. Pemimpinnya Muslim. Tapi dalam praktik politik global, garis itu tidak selalu menentukan. Negara bergerak dengan logika kepentingan. Bukan logika iman.

Di titik ini, kita harus berani mengatakan Arab bukan representasi Islam. Islam memang lahir di Arab. Bahasanya Arab. Kitab sucinya berbahasa Arab. Tapi Islam bukan milik Arab.

Agama atau Budaya?

Islam adalah sistem ajaran, nilai, dan prinsip. Bersifat universal. Lintas batas., lintas budaya, lintas politik. Islam berbicara tentang keadilan, bukan etnis. Tentang kemaslahatan, bukan simbol. Tentang rahmat, bukan dominasi budaya. Kaidah العادة محكمة jelas adat bisa menjadi pertimbangan hukum agama.

Budaya Arab bukan otomatis Islam. Sebaliknya, budaya non-Arab tidak otomatis non-Islam. Islam tidak datang untuk mengarabkan dunia. Islam datang untuk memanusiakan manusia.

Karena itu, mengukur keislaman dengan standar Arab adalah kesalahan serius. Pakaian Arab bukan ukuran iman. Bahasa Arab bukan ukuran takwa. Sistem politik Arab bukan standar syariat. Semua itu budaya. Bukan agama.

Di sinilah kita perlu menghidupkan kembali gagasan KH. Abdurrahman Wahid tentang “Pribumisasi Islam”. Gus Dur sudah lama mengingatkan. Jangan Islamisasi pribumi. Tapi pribumisasikan Islam. Nilai Islam harus hadir. Tapi dalam wajah budaya kita sendiri.

Pribumisasi Islam

Indonesia tidak harus menjadi Arab. Indonesia harus menjadi Indonesia yang Islami. Dengan Pancasila, dengan UUD 1945, dengan tradisi lokal, dan dengan kearifan sendiri. Islam memberi nilai. Budaya memberi bentuk. Islam memang satu. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Bersumber al-Qur’an dan Hadis. Berkiblat Ka’bah. Tapi hukumnya bisa berubah karena waktu dan tempat. Manifestasinya beragam.

Itulah sebabnya, ada Islam Indonesia, Islam Mesir, Islam Iran, dan Islam Amerika. Bahkan ada Fikih Indonesia. Fikih Timur Tengah. Fikih Barat. Ini bukan perpecahan. Tapi kekayaan. Islam tidak kaku. Adaptif dan kontekstual. Islam selalu hidup.

Karena itu, berhentilah mengidentikkan Islam dengan Arab. Berhentilah menganggap Arab pasti mewakili Islam. Tidak semua yang Arab itu Islami. Tidak semua yang non-Arab itu tidak Islami. Ukuran Islam itu  adalah tauhid, keadilan, kemaslahatan, dan kemanusiaan. Bukan geopolitik, bukan aliansi militer, bukan kedekatan dengan kekuatan global.

Hari ini, kita butuh keberanian berpikir. Tidak larut dalam simbol, tidak terjebak romantisme Arab, tidak silau oleh politik identitas. Kita butuh Islam yang sadar diri. Islam yang membumi. Islam yang damai, berpihak pada kemanusiaan dan keadilan. Itu hanya mungkin jika kita berani berkata tegas “Islam bukan Arab. Arab tidak selalu Islam.” []

Bagikan Artikel Ini: