Artikel 11 Mei 2026 5 Menit

Krisis Eksistensi Manusia Digital, dari Cogito Ergo Sum ke Premo Ergo Sum

A
Admin ISIF
Kontributor ISIF Cirebon

Penulis: Noer Fahmiatul Ilmia (Pengelola Perpustakaan ISIF dan Musyrif Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina)

ISIF Cirebon — Hari ini, hampir seluruh aktivitas manusia bersentuhan langsung dengan teknologi digital. Sejak bangun tidur hingga kembali tidur, manusia terus terhubung dengan telepon genggam, media sosial, internet, dan berbagai ruang digital lainnya. Kehidupan sehari-hari pun semakin sulit dipisahkan dari ruang digital.

Dalam situasi demikian, manusia modern telah kehilangan eksistensinya. Perilaku manusia semakin dipengaruhi oleh algoritma digital, cara pandangnya seringkali terbentuk dari apa yang muncul di sosial media, privasi semakin terbuka lebar tanpa ada sekat yang menghalang demi kebutuhan validasi sosial. Manusia modern tidak lagi hanya hidup di dunia fisik tetapi ia juga hidup di dunia maya atau dunia digital. Kebutuhan primer semakin bertambah dari yang awalnya hanya sandang, pangan, papan sekarang bertambah kuota internet.

Smartphone sudah menjadi dirinya yang lain, sehingga terjadi fenomena nomophobia (no mobile phone phobia). Istilah di mana muncul rasa kecemasan pada seseorang ketika ia tidak memegang smartphone atau merasa sulit fokus tanpa melihat media sosial. Smartphone ibarat tubuh manusia dalam bentuk yang lain dan kuota adalah ruh yang menghidupinya.

Memang, di era teknologi digital ini segala aktivitas manusia semakin mudah, jarak bukan lagi menjadi alasan besar untuk interaksi dan segala informasi mudah untuk diakses dan dikonsumsi. Namun, manusia di era demikian rentan kehilangan dirinya. Manusia bukan lagi menjadi aktor utama dalam kehidupannya, melainkan perlahan terkooptasi oleh teknologi digital. Ia tidak lagi sepenuhnya mengendalikan hidupnya sendiri, sebab teknologi digital perlahan ikut menentukan cara berpikir dan bertindaknya.

Sebagaimana yang ada dalam buku The Second Machine Age: Work, Progress and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies yang ditulis oleh Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, teknologi dikatakan secara tegas menjadi “kekuatan penuh” melalui karakter otomatisasinya dalam penciptaan atas apa saja yang belum pernah ada dalam kehidupan manusia. Dari sini dapat kita pahami, bahwa meskipun teknologi digital manusia yang menciptakan, tetapi nyatanya manusia sendiri kewalahan atas apa yang telah ia ciptakan.

Teknologi digital layaknya dua mata pisau, yang di satu sisi teknologi digital dapat menunjukan perkembangan peradaban manusia dan membantu perkembangan hidup manusia, tetapi di sisi lain, tanpa kita sadari malah mengasingkan peran penting manusia dalam menjalankan hidupnya. Dominasi tekonologi digital tidak hanya merubah cara manusia berintraksi, tetapi juga merubah cara manusia dalam memaknai dan memahami eksistensi hidupnya.

Eksistensi Manusia dalam Bayang-bayang Teknologi Digital

Dengan hidup di dunia digital, manusia merasa yakin jika dirinya sungguh ada dan hidup tanpa delusi. Meminjam judul buku F. Budi Hardiman, “Aku Klik Maka Aku Ada,” ungkapan tersebut seolah menjadi adagium baru yang berangkat dari pemikiran René Descartes, filsuf modern asal Prancis, dengan ungkapannya yang terkenal: Cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada).

Di era digital, adagium itu seakan bergeser menjadi Premo ergo sum (Aku klik maka aku ada). Ungkapan ini mencerminkan keberadaan manusia seolah tidak lagi ditentukan oleh refleksi kesadaran dirinya, melainkan oleh intensitas aktivitas digital yang dilakukannya. Manusia merasa “ada” ketika dirinya dilihat, disukai, dikomentari, dan diakui di ruang virtual.

Melihat realitas hari ini, aktivitas berpikir sudah seperti mati suri. Padahal aktivitas berpikir (cogito) sebagai satu-satunya bukti bahwa diri manusia benar-benar ada (ergo sum). Karena melalui berpikir, manusia sebagai subjek mampu melahirkan kemungkinan-kemungkinan, terutama kesadaran kritis. Dengan berpikir, manusia mampu membedakan antara kebenaranan dan kebohongan, kenyataan dan kecohan, baik dan buruk, indah dan jelek. Dan keandalan berpikir itu diuji lewat hipotesis genius malignus sebagai alat bantu.

Namun, di era arus informasi yang begitu deras, manusia sering tenggelam, sehingga kesadaran kritis kehilangan fungsinya. Perubahan tersebut, melahirkan transformasi definisi manusia dari Homo Sapien menjadi Homo Digitalis—istilah digital berasal dari kata Latin digitalis yang artinya ‘jari’.

Jika sebelumnya manusia modern sebagai sapien (makhluk yang berakal) memastikan keberadaannya melalui kemampuan kognitif dan daya berpikirnya. Maka, pada era Homo Digitalis (manusia jari), keberadaan diri justru sering dipastikan melalui aktivitas digital: sentuhan, unggahan, dan klik di layar.

Suka tidak suka, seperti inilah realitas yang terjadi di zaman kita sekarang. Kehidupan pun tak lagi dijalani secara utuh. Manusia tidak lagi hidup secara autentik sebagai dirinya yang menduniawi, melainkan mulai mengonstruksi hidup demi memenuhi kebutuhan eksistensi digital. Contoh fenomena yang sangat nampak dan jelas dalam kehidupan kita sehari-hari, adalah istilah seperti: flexing, fear of missing out (FOMO), atau kebiasaan merekam atau memotret makanan sebelum disantap, hingga merekam kecelakaan demi konten alih-alih segera menolong korban. Bahkan, kegiatan sosial pun kerap berubah menjadi sarana pencitraan di ruang digital.

Demikianlah kehidupan kita hari ini, eksistensi manusia sudah mulai mengalami pergeseran secara mendasar. Ia sudah tidak lagi bertumpu pada kesadaran reflektif tetapi lebih kepada kesadaran validasi digital. Dalam kondisi seperti ini, tantangan manusia bukan hanya sekedar mampu menggunakan teknologi, manusia juga harus mampu menunjukan eksistensinya di era digital dengan tetap menjaga kesadaran kritis dan eksistensinya sebagai subjek yang bebas, reflektif, dan autentik.

Bagikan Artikel Ini: