Artikel 08 Desember 2025 5 menit baca

Kampanye Publik sebagai Upaya Perlawanan Masyarakat Sipil

A
Admin ISIF
Kontributor ISIF Cirebon

Penulis: Sukma Aulia Rohman (Mahasiswa ISIF Cirebon)

ISIF Cirebon — Pada tanggal 29-30 November kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan kampanye publik di LBH Bandung. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai macam komunitas, lembaga, serta organisasi yang bergerak dalam advokasi terhadap masyarakat sipil.

Dalam pelatihan ini, saya banyak mendapat pengetahuan baru, mulai dari bagaimana melakukan mitigasi, pemantauan, hingga melakukan kampanye publik atas berbagai konflik masyarakat sipil yang terjadi di berbagai daerah khususnya di wilayah Jawa Barat.

Pelatihan ini menjadi penting, mengingat saat ini berbagai upaya pembungkaman, perenggutan ruang hidup, serta upaya penghilangan hak-hak masyarakat sipil yang bukan hanya terjadi di dunia nyata. Singkatnya, pelanggaran hak asasi manusia, kini sudah merambah ke dunia digital. Maka dari itu kampanye publik menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya mempertahankan hak asasi manusia yang banyak direnggut oleh segelintir pihak.

Kampanye Publik

Kampanye merupakan kegiatan strategis yang membawa gagasan, nilai, dan kepentingan menuju suatu perubahan yang di inginkan. Langkah ini ibarat kendaraan yang dapat menghantarkan kita kepada suatu cita-cita sosial politik yang hendak dicapai.

Kampanye dapat menjadi sebuah senjata untuk menghancurkan berbagai narasi propaganda yang dibuat oleh segelintir media arus utama. Media saat ini banyak dikuasai oleh kepentingan penguasa dan oligarki. Tak heran jika narasi yang diwartakan cenderung memanipulasi opini publik dan menutupi berbagai macam pelanggaran yang sebenarnya terjadi.

Kampanye publik hadir sebagai narasi perlawanan atas berbagai pembungkaman yang terjadi kepada masyarakat sipil. Mereka yang lantang bersuara melawan berbagai penindasan kerapkali dikriminalisasi akibat propaganda yang dilakukan oleh penguasa.

Propaganda Media

Di era digital saat ini, rangkaian perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat sipil bukan hanya soal mempertahankan ruang hidup di dunia nyata melainkan juga pertempuran narasi di dunia digital. Pertarungan narasi di dunia digital tak lepas dari peran sentral media dalam mewartakan sebuah peristiwa yang terjadi. Alih-alih memberikan fakta yang sebenarnya, — media yang sekarang banyak dikuasai para penguasa —  malah memuat narasi yang sarat akan propaganda yang memanipulasi opini publik.

Dalam contoh kasus pembakaran rumah warga Sukahaji di Bandung. Banyak media yang mewartakan bahwa kejadian di Sukahaji adalah peristiwa kebakaran. Padahal sejatinya yang terjadi adalah Sukahaji dibakar oleh ormas.

Media yang telah disusupi oleh penguasa dan oligarki, mencoba menutupi tindak kriminal yang sebenarnya dilakukan oleh pihak lawan. Mereka akan melakukan segala cara demi menutupi jejak hitam yang mereka lakukan. Propaganda yang dilakukan oleh pihak lawan memunculkan narasi manipulatif yang kemudian menggiring opini masyarakat seolah-olah yang terjadi adalah peristiwa kebakaran.

Pentingnya Bersuara

Upaya manipulasi yang dilakukan oleh penguasa perlu kita lawan dengan narasi tandingan dalam bentuk kampanye publik. Maka perlu bagi kita untuk menyuarakan apa yang sebenernya terjadi agar pesan perlawanan yang kita suarakan dapat menghancurkan propaganda pihak lawan.

Kampanye Publik dapat kita lakukan dengan berbagai cara, seperti lewat konten media sosial, banner, pamflet, selebaran, zine dan lain sebagainya. Diperlukan strategi yang matang serta narasi yang kuat dalam berkampanye. Narasi yang kita buat harus dapat menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi. Narasi yang berdasarkan pada pengalaman rakyat dan dapat mem-framing beragam upaya monopoli kebenaran yang dilakukan oleh pihak lawan.

Kampanye publik bukan hanya soal konten semata, kampanye merupakan memori kolektif rakyat yang berjuang melawan berbagai upaya penghapusan hak serta ruang hidup. Lewat kampanye, kita dapat merebut kembali hak serta ruang hidup rakyat yang banyak direnggut oleh segelintir pihak. Bersolidaritas atas berbagai upaya penghapusan yang dilakukan akan memperkuat perlawanan yang kita lakukan. []

Bagikan Artikel Ini: