Penulis: Nani Munayah (Mahasiswa ISIF Cirebon)
ISIF Cirebon — Di tengah meningkatnya keresahan ekologis dan kerusakan lingkungan, Kemping Raya Lintas Iman 2025 terasa seperti jeda yang menyegarkan. Ia bukan sekadar forum dialog antaragama, tetapi ruang belajar bersama tentang bagaimana merawat bumi sebagai rumah yang kita bagi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina sebagai bagian dari rangkaian ulang tahun ke-25, diikuti sekitar 60 peserta dari beragam agama dan komunitas anak muda di wilayah III Cirebon. Selama tiga hari dua malam, kami berkegiatan di Bumi Perkemahan 1001 Tangga Manguntapa, Kuningan.
Di tengah bencana yang terus berulang, termasuk banjir besar di Sumatra yang dipicu penggundulan hutan dan aktivitas tambang yang tak terkendali, kita kembali diingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar “bencana alam”. Ada jejak tangan manusia yang menggali terlalu banyak, mengambil terlalu jauh, dan lupa pada batas. Di sinilah Kemping Raya memberi ruang untuk memahami masalah ekologis bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal etika, kemanusiaan, dan spiritualitas yang perlu dirawat bersama.
Memantik Kesadaran Lewat Jelajah Alam
Berada di tengah alam membuat saya sadar betapa murah hatinya bumi. Udara yang kita hirup tak pernah ia tagih, pohon-pohon yang menjulang tinggi seolah menjadi payung untuk berteduh, dan tanah yang menopang setiap langkah kita bekerja tanpa menuntut balasan. Alam hanya menginginkan satu hal dari kita: dijaga.
Salah satu sesi yang menjadi momen berharga bagi saya adalah jelajah alam. Kami menapaki tangga panjang yang katanya berjumlah 1001 itu, sambil bercanda dan mengabadikan momen. Namun saat turun, saya melihat hanya beberapa peserta yang memungut sampah di sepanjang jalur.
Dari situ saya sadar bahwa kepedulian lingkungan tidak muncul dari teori, melainkan dari pengalaman langsung. Rasa capek menapaki hutan yang seharusnya tetap bersih, obrolan kecil sambil mengambil sampah, dan suasana alam yang mengingatkan kita untuk tidak egois.
Di antara peserta yang berasal dari berbagai agama dan kepercayaan, percakapan kami mengalir pada kesimpulan yang sama: “Bumi tidak menanyakan identitas kita sebelum memberi kehidupan. Karena itu merawatnya adalah tanggung jawab semua manusia.”
Dalam perspektif Islam, kerusakan lingkungan sangat berkaitan dengan maqashid syariah, terutama hifz an-nafs (menjaga jiwa) dan hifz an-nasl (menjaga keturunan). Banjir di Sumatra yang dipicu pertambangan adalah contoh nyata bagaimana kerakusan dapat merenggut nyawa makhluk hidup, merusak rumah, dan mengancam generasi.
Ketika bumi diperlakukan tanpa mempertimbangkan akibatnya, manusialah yang menanggungnya. Karena itu, merawat lingkungan bukan sekadar wacana “go green”, tetapi bagian dari menjaga kehidupan dan masa depan—sebuah amanah spiritual.
Kemping Raya Menambah Perspektif Baru
Selain jelajah alam, Kemping Raya juga dipenuhi berbagai sesi yang memperkaya perspektif kami. Ada human library yang mengajak kami mendengar kisah langsung dari para pegiat lintas iman. Ada nonton bareng yang memantik diskusi tentang empati dan keberagaman. Diskusi tobat ekologi membawa kami pada refleksi mendalam tentang perilaku manusia terhadap alam, sementara diskusi politik membuka percakapan tentang bagaimana kebijakan publik harus berpihak pada keadilan ekologis.
Di malam hari, kami menikmati pertunjukan seni, musik, dan games seru yang membuat suasana cair, akrab, dan penuh tawa. Dari rangkaian sesi itu, satu hal yang paling saya refleksikan adalah bahwa merawat bumi bukanlah tema yang berdiri sendiri—ia selalu bertautan dengan etika, relasi sosial, dan spiritualitas kita sebagai manusia.
Krisis ekologis, termasuk banjir besar di Sumatra, mengingatkan kita bahwa musuh terbesar bumi bukan perbedaan agama, melainkan keserakahan manusia. Ketika hutan ditebang tanpa mempertimbangkan air dan udara, yang tumbang bukan hanya pohon, tetapi martabat manusia. Kemping Raya menunjukkan bahwa melawan kerusakan lingkungan berarti melawan ketidakadilan ekologis yang menindas banyak jiwa.
Saya pulang dari Kemping Raya dengan hati yang ringan, tetapi penuh kesadaran baru: merawat bumi adalah bentuk cinta. Cinta kepada kehidupan, kepada generasi yang akan lahir, dan kepada Sang Pencipta yang menitipkan alam sebagai amanah. Ruang-ruang lintas iman seperti ini membuat saya yakin bahwa masa depan ekologis Indonesia masih punya harapan.
Semoga langkah kecil dari pegunungan ini menyebar ke rumah, sekolah, kampus, komunitas, hingga kebijakan publik. Sebab bumi terus menunggu—dan ia tidak bisa menunggu terlalu lama.